Aku tahu betul, kami harus pergi dan tak ada gunanya mempertahankan diri. Rumah leluhur yang ratusan tahun turun-temurun menaungi kami, rasanya bukan alasan untuk jadi sentimentil. Dan kami tak perlu punya romantisme tentang masa lalu yang indah. Yang pasti, kami dan seisi rumah berikut semua rumah tetangga dalam Gang Zuxian ini harus tunduk pada keputusan pemerintah. Dalam empat hari hitungan mundur, kami harus hengkang dan menemukan tempat baru. Lalu memulai kehidupan baru.
Namaku Akian. Aku adalah orang generasi baru. Ras kami dikenal sebagai orang-orang sukses di dunia bisnis di negeri ini. Tapi kenyataannya tak selamanya demikian. Karena di pulau ini, rasanya kami tak beda dengan warga umumnya. Diantara kami ada yang kaya, punya toko besar, sombong dan super pelit serta licik. Tapi ada juga yang setiap hari ngos-ngosan mengayuh sepeda butut untuk menjajakan otak-otak… Puluhan tahun kami berbaur dengan warga dan tidak ada yang membeda-bedakan kan kami berdasarkan ukuran kelopak mata. Tapi pemerintahlah yang di masa lalu membedakan kami. Akibatnya kami menempati perkampungan sendiri yang terpisah dari golongan lainnya.
Di masa kecil sejak kelas 1 SD aku berteman dengan Budiman, Dulah, Sasongko, Akong dan Khaidir serta Pihilpus dan Yusron. Semua suku ada. Semua agama ada. Kami tidak pernah saling menghina. Paling banter cuma olok-olok sesama anak kecil semisal “yee kalian tidak disunat!”. Kami tidak tersinggung karena kami juga punya bahan untuk balas mengolok mereka. Yang pasti anak-anak selalu berteman. Jika suatu hari kami berkelahi, esoknya kami sudah berteman lagi dan melupakan perkara kemarin. Di dunia anak-anak hampir tak ada dendam.
Jika lebaran tiba, kami mengunjungi kawan-kawan yang beragama Islam. Kami dipersilakan makan sepuasnya. Walau malu-malu, aku juga sering mengantongi kue satu yang terbuat dari kacang hijau itu. Itulah kue favoritku hingga sekarang. Dan pada saat Kongnyan tiba, teman-teman Islam juga berkunjung, tapi tidak semua makanan yang kami suguhkan mereka habisi. Mereka takut kalau ada bekas minyak babi di panci tempat ibu kami memasak… Jadi teman-teman cuma berebutan membuka minuman kaleng atau permen yang menurut mereka lebih terjamin kehalalannya ketimbang kue-kue basah yang dibuat mama. Tak mengapalah. Kami sangat menghargai keyakinan mereka seperti mereka tak pernah menggangu kepercayaan kami.
***
“Akiaaan…! “ panggil mama. Wanita itu sudah setengah renta. Aku tersentak. “Ka ngape di situ!” (Kamu sedang apa di situ) katanya. Sekalipun sudah berumur 60 tahun mama tetap bersuara kencang. “Dak liat he urang sibuk-sibuk nek gi pindah…!” (Apa kamu tidak lihat orang sibuk mau pindah?) lanjutnya. Aku menyadari, seisi rumah dan sepanjang Gang Zuxian sedang berkemas-kemas karena hari semakin dekat. Mama kesal melihatku melamun di teras atas. Jadi aku harus membantu Mama dan Akim adikku membereskan barang-barang yang besok akan diangkut ke atas truk dan membawa semuanya ke sebuah desa tempat baru kami jauh di luar kota.
“Aok Mah… “ (Iya, Ma)
“Ka jangan diem-diem di situ. Ka nek mati bediri hee..!” (Kamu jangan diam saja di situ. Apa kamu mau mati berdiri?) katanya tambah kencang. Kubuang rasa kesal karena makian itu. Bagaimanapun mama adalah orangtua yang harus aku hormati dan aku perlakukan baik. Itu adalah ajaran leluhur yang paling aku hayati selama ini. Karena selebihnya aku tidak paham apa-apa tentang agama yang kami anut sejak lahir. Yang pasti, jika kami tidak memuliakan orangtua, maka kami bisa soi seumur hidup.
“Aokla ma…!” (Baiklah Ma) kataku sambil beranjak. Lalu ikut sibuk membantu Akim menyusun dus-dus berisi perabotan.
Aku bisa maklum mengapa mama begitu kesalnya terhadapku. Beliau mengharapkan kami orang-orang muda bisa berjuang mempertahankan tanah dan rumah kami dari upaya penggusuran. Tapi kami gagal. Sorot matanya memperlihatkan sikap tidak terima. Di sini memang ada seorang pemuda yang cukup keras mempertahankan prinsip. Namanya Achung. Dia berani bicara menentang upaya penggusuran. Sayangnya Achung seorang pemabuk sehingga tidak bisa diandalkan oleh warga.
Rumah kami di pusat kota ini dihuni secara turun-temurun. Tembok tua yang tebal dan kokoh itu memperlihatkan bahwa rumah kami bukan dibuat sepuluh atau dua puluh tahu lalu. Bagunan itu itu tetap kuat meskin dirambati lumut hijau. Genting-genting kecoklatan di atasnya tidak lagi diproduksi pada masa kini. Kalau ada yang pecah, hanya ditambal dengan seng.
Gang Zuxian hanyalah sebuah lorong sempit dengan lebar sekitar dua meter. Bangunan-bangunan memadati rabat beton sepanjang tujuh puluh meter lebih itu. Dari gaya bangunannya terlihat rumah-rumah berdempetan itu dibuat saat perang berkecamuk di negeri ini. Itu terlihat pada bagian pagar tembok menjulang yang bentuknya mirip Ba Da Ling dalam ukuran mini. Tapi ada perpaduan gaya Cina, Melayu dan Belanda. Tembok-tembok putih lusuh bertingkat dua sampai empat itu terlihat kusam dan sebagian berlumut kering. Mungkin usianya sudah lebih dari seratus tahun. Di mulut gang sangat kentara hiruk-pikuk pusat kota kecil yang lumayan sibuk.
Para penghuni hanya sekitar dua puluh lima keluarga. Diantaranya ada yang masih lengkap empat generasi. Kehidupan di Gang Zuxian biasa-biasa saja. Semua menjalani hari-hari dengan aktivitas masing-masing. Menjadi pedagang keliling, penjual mian di warung tenda, tukang reparasi jam, tukang kaca mata, karyawan swasta atau buruh toko-toko yang ada di sekitar. Ada juga yang menganggur dengan menghabiskan hari-hari di muka gang. Tapi anehnya mereka selalu punya uang. Dan ada kakek yang sudah kelewat uzur, dia hanya duduk seharian di teras rumah di atas kursi roda, menghayati Ye Liang Tai Piau Wo Te Sing dari Teresa Teng sambil menunggu sang Thien menjemputnya.
Namun kehidupan yang damai dan tentram di tengah kebisingan kota itu bakal segera berakhir. Karena kawasan itu sudah dibeli oleh investor besar untuk dijadikan lingkar perdagangan internasional yang lengkap dan mewah. Lingkungan itu makin tampak bagaikan singa renta di pusat kota.
Dulu papa punya bengkel sepeda di pinggir jalan di muka gang. Tapi usaha itu tidak kami teruskan sejak papa meninggal lima tahun lalu. Bengkel itu kami jual berikut peralatannya. Tidak seberapa harganya karena barang-barang itu hanya dihargai kiloan layaknya besi rongsokan. Aku dfan Akim tidak punya minat mengelola bengkel sepeda. Apalagi sekarang minimal orang naik sepeda motor. Yang pakai sepeda cuma anak-anak SD yang belum dapat izin naik motor. Kebanyakan mereka datang ke bengkel cuma untuk pinjam pompa tangan dengan gratis. Kalaupun ada orang kaya punya koleksi sepeda canggih dan mahal, pun tidak memerlukan jasa bengkel kami. Akhirnya bengkel yang sudah memberi kami hidup itu aku tutup. Kadang aku merasa bersalah juga kalau ingat almarhum papa yang setiap hari hanya mengenakan baju kaos singlet dan celana piyama bekerja keras di bengkel sepeda kebanggaannya itu. Papa ingin aku dan Akim bisa jadi pengusaha yang baik.
“Kalo papa nih jadi tukang bengkel sepeda, kalian harus punya usaha yang lebih baik dari papa,” pesan papa dulu. Tapi beliau tidak menyuruh kami berbisnis di bidang tertentu. Beliau hanya ingin kami lebih maju. Apalagi dengan dua anak, kami termasuk keluarga paling kecil. Keluarga-keluarga lain memiliki anak paling sedikit 5 orang. Kami berdua benar-benar jadi harapan orangtua.
Itulah sebabnya kadang aku merasa berdosa dan kurang berbakti pada papa. Karena saat ini aku dan Akim terpaksa berhenti sekolah setelah masing-masing kami tamat SMK. Karena kami tidak punya biaya untuk sekolah lebih tinggi. Aku sempat sedih sekali saat lulus sekolah dulu. Kawan-kawanku merencanakan sekolah ke Jakarta. Mereka masuk fakultas ekonomi atau teknik di Universitas Trisakti atau Universitas Kristen Indonesia. Orangtua mereka kaya. Bahkan ada yang siap berangkat ke Singapura untuk kuliah di tempat yang elit dan mahal. Sementara aku anak seorang tukang bengkel sepeda yang sudah ketinggalan zaman, tak mampu berbuat apa-apa.
Aku memilih bekerja di studio foto. Karena walau disuruh papa sekolah di jurusan akuntansi, diam-diam aku mempelajari editing foto digital di lab komputer sekolahku. Dan dengan bekal otodidak itu aku diterima bekerja di studio Koh Ayung. Lelaki itu memang kawan papa di masa muda mereka. Tapi sial, Kok Ayung sama sekali tidak memandang aku sebagai anak temannya. Baginya bisnis tetap bisnis. Dia memperlakukan aku murni sebagai anak buahnya. Walaupun jabatanku sebagai operator cetak foto digital, tiap pagi aku harus menyapu dan mengepel lantai studio. Bahkan pada siang hari, tak jarang aku disuruh menjemput anaknya yang masih kelas 5 SD pulang sekolah. Dalam hati aku protes, masa sih operator digital editing yang bekerja pakai komputer harus melakukan tugas pembantu rumah tangga. Tapi apa mau dikata.
“Kamu kalau kerja sini harus rajin. Lakukan semua yang aku suruh!” katanya. Pernah suatu hari aku mangkir kerja karena sedikit pusing dan demam. Keesokan harinya aku dimarahi dengan keras. Koh Ayung sama sekali tidak mau mendengar alasan sakitku.
“Kamu kalau masih bisa berdiri harus masuk kerja!” tegasnya. Dan pada akhir bulan, gajiku yang tidak seberapa itupun kena potong ! Duh sakitnya, tapi apa daya. Bukan itu saja. Bila aku membuat kesalahan saat mencetak foto, maka Koh Ayung pun menghitung kertas dan tinta yang terbuang itu dengan nilai Rupiah. Dan lagi-lagi gajiku dipotong. Makanya bila terjadi salah cetak, aku buru-buru menyembunyikannya ke dalam saku celanaku, lalu segera memusnahkannya sebelum Koh Ayung tahu.
Aku bertahan kerja dibawah tekanan Kok Ayung karena saat itu Akim masih kelas 3 SMK. Aku berjanji dalam hati, suatu saat aku harus punya studio sendiri yang jauh lebih baik dan lebih canggih daripada milik Kok Ayung.
Setelah dua tahun, akupun berhenti dari studio kok Ayung untuk mencari peluang lain. Akim yang sudah lulus sekolahnya sementara bekerja di bengkel servis elektronik. Dia memang berbakat di bidang itu. Di masa sekolah pun Akim sudah sering memenangkan lomba elektronika dengan karya-karyanya. Sayangnya kami tidak punya biaya untuk membuatnya lebih pintar di universitas. Akhirnya Akim harus memegang solder dan multimeter untuk memperbaiki DVD player bobrok. Kacamatanya semakin tebal saja.
Di saat itulah, kawasan tempat tinggal kami bermasalah. Kami berkewajiban meninggalkan Gang Zuxian untuk diserahkan kepada pemerintah. Kabarnya kawasan itu sudah direncanakan untuk menjadi lingkungan perdagangan besar. Rencana itu sudah matang. Tinggal pengosongan lokasi saja.
Kami heran. Bagaimana mungkin ini terjadi. Kami sudah mengajukan keberatan melalu perwakilan RT/RW. Kami merasa punya bukti kepemilikan. Kami bahkan sempat membuat demo kecil-kecilan dan menjadi berita di koran lokal. Tapi pemerintah tak bergeming. Ada juga yang mengaku pengacara hebat dan siap mendampingi kami. Warga bahkan sudah patungan membayar jasa sang pengacara itu. Tapi hasilnya nihil. Pengacara itupun tak jelas lagi batang hidungnya setelah mendapat jutaan rupiah uang kami. Bukti pemilikan tanah dan bangunan kami dinyatakan tidak sah karena surat-menyurat itu dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
“Tidak tahukah kalian ini zaman sudah merdeka. Belanda tidak ada lagi. Surat-surat itu tidak berlaku lagi. Kedaluwarsa!” kata seorang pejabat yang berwenang. Apa boleh buat. Kami harus menerima sedikit uang pindah. Tanah dan bangunan tidak dibayar karena semua itu tidak sah milik kami. Uang yang diberikan oleh pemerintah dikatakan sebagai bantuan untuk pindah.
“Masih untung kalian dikasih dana untuk pindah. Gimana kalau langsung kita bulldozer saja. Kalian sendiri yang akan susah!” tambah pejabat yang berwenang tadi. Jadi tak ada solusi lain selain kami semua hengkang secara baik-baik. Memang, zaman telah membuat diantara kami lebih berani. Generasi baru kami tidak seperti para orangtua kami yang sangat penakut terhadap penguasa, lalu menyelesaikan segala sesuatunya dengan uang sogok. Mereka sering jadi korban pemerasan karena ketakutan mereka sendiri, atau tidak mau susah-susah berurusan dengan birokrasi.
Mungkin aku masih mewarisi sedikit sifat picik itu. Aku tidak seberani Achung yang walaupun dikenal sebagai pemuda pengangguran tapi paling berani menentang pengosongan Gang Zuxian. Dari jendela lantai 2 aku melihat Achung tengah berjalan dengan sempoyongan. Ia bersenandung menceracau dengan siauciu yang terbungkus plastik bening di tangannya. Hingga saat semua orang akan pergi, tinggal Achung yang nekad bertahan.
“Woi! Achung!” aku memanggil dengan keras. Achung pun menoleh ke arahku.
“Ha… ha… haa.. Kamu ngapain he nongkrong aja kaya nggak ada kerjaan ha.. haa,” kata Achung lalu menyedot pipet minumannya.
“He.. Achung. Kamu juga ngapain. Kerjaan tiap hari cuma mabok. Nyusahin orangtua! Orang-orang pada mau pindah. Kamu masih ngotot tinggal di sini he? ”
“Eh anak bodoh. Pergi saja kalian semua. Aku tetap di sini! Dasar kalian semua tolol. Ini tanah kita, rumah kita. Nggak ada yang boleh mengambilnya. Kalian semua kena tipu…” balasnya.
Aku merasa tak lagi perlu melayani omongan Achung. Dia sudah mulai tidak waras akibat minuman keras yang ditegaknya setiap hari. Saat mabuk dia berorasi bagaikan singa podium di masa revolusi. Dalam hati aku setuju dengan apa yang dikatakan Achun, tapi aku tak mungkin senekad dia.
Begitulah. Kepindahan ini tak pernah ada dalam benak kami. Tapi kini kami mengalaminya… Lama sekali aku berpikir bagaimana harus melewati semua ini. Aku membolak-balik buku-buku tua milik papa. Dan aku temukan kisah-kisah yang menyemangatiku. Zaman dahulu di masa dinasti Tiongkok ternyata banyak orang yang terusir dari lahannya karena peperangan. Mereka bahkan jauh lebih menderita. Dijajah dan kelaparan. Hingga melarikan diri dengan kapal kayu menempuh samudera yang luas. Diantara mereka bahkan mati sebelum tiba di daratan. Namun salah seorang pemimpin mereka berkata ” Di mana ada langit, di situ ada keturunan kita. Kita bisa hidup di tengah gurun maupun di atas salju”. Maka menyebarlah kelompok itu ke seantero dunia. Mereka di semua negara. Dan mereka menjadi warga negara sesuai negara tempat mereka tinggal. Lalu beranak-pinak hingga zaman terus berlanjut. Hingga kini kami menghitung hari menjelang tenggat untuk kembali menyebar.
Kubaringkan tubuhku dekat tumpukan kardus yang akan kami bawa pindah. Lalu terlelap karena kelelahan. Buku lusuh warisan papa menutupi wajahku. Malam telah beranjak. Itu artinya waktu kami semakin berkurang.
***
Gerimis menyisakan harum tanah. Aroma yang tak nyaman untuk dihirup. Aku terjaga dan merasakan sesuatu yang tak biasa. Aku bertanya sendiri, apakah kami sudah berada di tempat baru. Oh… tidak.. Bau hangus! Kami masih di Gang Zuxian. Aku bangkit dan menoleh keluar. Mengapa ramai sekali… ada suara sirine meraung-raung di bawah sana.
Sejumlah paramedis menandu orang-orang tak bernyawa yang dipunguti dari pepuing reruntuhan bangunan-bangunan yang sepertinya baru saja terbakar. Polisi membentangkan pita kuning sebagai tanda larangan melintas. Orang-orang di tepi jalan pun menutup hidung. Diantarannya sambil menangis ketika kantong-kantong mayat berisi tubuh yang tak lagi jelas bentuknya, ditutup dan diangkut ke mobil ambulan.
Aku tak sedang menonton film…
Seorang gadis kecil sunyi dalam kebisuannya. Sang papa hanya memeluknya seerat mungkin agar mata sipit si kecil tak melihat pemandangan mengerikan di depan. A Mey, gadis berumur 5 tahun itu tak diperbolehkan melihat kakak lelakinya, Achung yang sudah menjadi jenazah. Tubuh matinya ditemukan setelah petugas bersusah payah membongkar puing-puing rumah. Lima blok rumah berdinding kokoh yang berumur ratusan tahun, kini musnah dalam beberapa jam. Beruntung rumah kami tidak terciprat api. Dus-dus berharga kami masih utuh.
Orang-orang bercerita, tadi sore A Mey masih di teras atas rumahnya bersama Achung. Memang tak biasanya, kakak beradik itu nongkrong berdua. Mana mungkin lelaki pemabuk macam Achung disukai adiknya yang 12 tahun lebih muda itu. Achung juga tidak suka bermain dengan adiknya. Malah dia tak peduli sama sekali pada A Mey. Tapi sore itu tidak. Mereka tampak akrab layaknya kakak dan adik yang saling menyayangi.
A Mey memeluk boneka sedang Achung mengacungkan telunjukknya seakan memegang pistol. Kadang-kadang diarahkan ke kepalanya sendiri sambil bergumam. “Derr… der…”
“He Koko kanapa nembak kepala sendiri?”
“Enggak. Koko cuma lagi mikir,”
“Mikir apaan?”
“Kalo Adik nanti sudah jauh dari Koko, adik pasti senang. Nggak lihat orang menyebalkan macam Koko ini?”
“Koh Achung nakal sih sukanya mabok,” kata A Mey dengan nada polosnya. Dia terus membelai bonekanya.
Achung menatap kemerahan di ufuk sana. Mata sipitnya semakin redup.
“He Koko memang nggak mau ikut pindah ya?
“Koko minta maaf kalo sering nakal sama A Mey ya… Kalo Koko pun pindah, mungkin tempat kita berbeda” ucapnya setengah berbisik.
“Iya, tapi koko jangan suka mabok lagi ya…”
Achung menganguk.
Malam pun beranjak.
Dingin dan meremang. Bulan putih bergantung bagaikan lampion yang mematung tanpa api di dalamnya.
Sementara itu bangunan tua dengan kabel listrik yang centang perenang di dalamnya menimbulkan percikan api. Hingga Achung dan beberapa warga Gang Zuxian lebih dulu pindah sebelum tenggat waktunya. Thien mengambilnya sebelum pemerintah menggusur mereka. Aku tak tahu apakah Achung pahlawan atau mati konyol karena halusinasinya sendiri. *** (Pangkalpinang, Juli 2009)
Thien = Sesuatu yang sangat tinggi, langit, Tuhan.
Ba Da Ling = (Baca Pa Tha Ling), great wall, tembok besar di daratan Cina
Kongnyan = Hari Raya Imlek
Koko = Kakak laki-laki
Siauciu = Arak, minuman keras hasil fermentasi yang dibuat secara tradisional.
Soi = Sial, kesialan. Lawan kata hoki (keberuntungan.)
TeresaTeng = Nama penyanyi legendaris Taiwan. Dia lahir 29 Januari 1953, wafat 8 Mei 1995. Lagu-lagunya romantis, seperti hits Ye Liang Tai Piau Wo Te Sing.

KCL Pictures
dahsyat man ….
Oleh: iwan gunawan on Juli 26, 2009
at 3:47 am