AKU ADALAH SEEKOR ANJING
Oleh : Scorpiansyah
Dari salah satu pos jaga yang terselip di keramaian, aku memandang square megah yang terpampang di depan sana. Hari ini aku bertugas memantau situasi di wilayah elit itu. Hiruk pikuk manusia lengkap dengan polah dan atribut mewah di badannya. Tampaknya mereka semua berbahagia. Berbelanja dan rekreasi dengan keluarga, menikmati fasilitas lux yang beberapa bulan lalu diresmikan oleh pejabat tertinggi di kota ini.
Aku adalah seekor anjing. Walau begitu, aku dan teman-temanku sesama anjing punya peran yang tak bisa diabaikan untuk mewujudkan mimpi masyarakat kota ini memiliki mal terlengkap dan semegah itu. Layaknya pasukan, kami mendapat tugas yang menantang. Membersihkan manusia-manusia yang membandel dan tak mau pindah dari lokasi ramai itu. Kan lokasi itu mau dibikin mal yang jauh lebih gaul dibanding pasar tradisional atau kaki lima. Makanya, kami gong-gong dan kejar-kejar mereka sampai tunggang langgang. Kalau perlu digigit saja orangnya dan hancurkan bangunan serta barang-barang yang ada di dalamnya. Tak peduli apa kata orang, tak peduli apa pun berita di koran.
Semula aku memang seekor anjing dari kampung. Setelah masuk dalam pelatihan, aku tidak lagi terlihat kumal. Karena kini aku sudah mendapatkan majikan yang pintar dan tertib. Aku bergabung dengan anjing-anjing kampung lainnya. Kami dilatih oleh pelatih setara herder. Makanya kami bisa baris-berbaris dan melompati halangan bahkan mererobos api. Kami pun mendapat seragam yang licin. Kami juga dibekali senjata. Walau bukan senapan atau pistol, pentungan pun lumayanlah. Kalau melayang ke kepala orang, bisa pingsan. Minimal benjol.
“Ingat! Tugas kalian adalah patuh pada perintah komandan!” tegas atasan kami saat kami dilantik menjadi Tim Spesial Anjing Cepat Tanggap (TSACT).
Semua orang tahu, kelompok kami dianggap mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi. Ini bukan isapan jempol tapi sudah dibuktikan melalui penelitian ilmiah dan bukti-bukti lapangan. Walau dibanding anjing-anjing bule, tingkat kecerdasanku sebagai anjing kampung mungkin sedikit di bawah. Kami mungkin tidak bisa sehebat anjing ras border collie yang terkenal dapat mematuhi dan menjalankan berbagai macam perintah. Karena itu kami masuk pelatihan. Apalagi kalau dilihat asal-usul kami sebagai keturunan serigala yang hidup berkelompok membuat kami jadi lebih mudah dilatih dibandingkan hewan lain. Kami bisa patuh secara berkelompok.
Oleh karena itu, saat mengusur lokasi square yang dulunya pasar tradisional itu, kami menurut saja ketika diperintah untuk membongkat lapak-lapak serta gerobak. Pedagang kecil tunggang langgang. Ada yang mengamuk, tapi segera kami lumpuhkan. Ada yang menangis meraung-raung saat dagangannya kami obrak-abrik. Suasana tegang dan mencekam. Ada kelompok yang melawan dengan melempari kami. Kami maju terus dan mereka berhasil kami desak, lalu kabur. Yang tertangkap beberapa orang, segera kami amankan dengan borgol. Ya, kami hanya patuh perintah atasan. Sebagai anjing toh kami tak punya perasaan belas kasihan. Kami menyalak, menyepak, menggigit siapa saja atau apa saja yang sekiranya akan menghalangi pengosongan lokasi.
Aku sempat melihat ibu-ibu separoh baya memaki-maki kami. “Kalian semua anjing!”, hardiknya sambil menuding-nuding. Kami tak peduli dengan makian itu karena kami memang anjing.
“Gong gong mereka!” perintah komandan kami.
“Siap!” sahut kami
“Serang Mereka!”
“Siap!”
“Gigit mereka!”
“Siap!”
Sesungguhnya kami pun bisa mendengar suara yang tak mampun didengar oleh manusia. Sebagai anjing, kami bisa mendengar suara frekuensi rendah 16 hingga 20 Hz , manusia hanya mendengar frekuensi 20-70 Hz, dan suara frekuensi tinggi dari 70 kHz hingga 100 kHz, manusia hanya mendengar frekuensi 13-20 kHz. Selain itu, anjing bisa menggerak-gerakkan daun telinga agar cepat bisa menentukan lokasi sumber suara yang sebenarnya. Lebih dari 18 otot pada daun telinga memungkinkan kami memiringkan, memutar, menidurkan, atau menegakkan daun telinga. Anjing mampu menentukan sumber suara lebih cepat dari manusia, sekaligus bisa mendengar suara yang sumbernya empat kali lebih jauh yang dapat didengar manusia.
Karena itu kami bisa melacak di mana ada orang bersembunyi atau menyembunyikan barang-barang mereka. Saat mereka berbisik-bisik, kami mampu mendengar. Apalagi suara gesekan ketika mereka menyeret barang-barang dagangan untuk dibawa ke tempat aman. Kami segera temukan. Lalu kami obrak-abrik, atau naikkan ke dalam truk. Atau kalau perlu kami bakar saja.
Kelebihan kami sebagai anjing yang sangat terkenal adalah memiliki hampir 220 juta sel penciuman yang sensitif terhap bau. Luas sel itu kira-kira selebar sapu tangan, sangat luas bila dibandingkan sel penciuman yang dimiliki manusia. Sebagai pembanding, manusia hanya memiliki 5 juta sel penciuman yang menempati luas selebar meterai. Beberapa jenis anjing ras bahkan sengaja dibiakkan agar lahir anak anjing dengan indera penciuman yang lebih bagus. Mekanisme pengumpulan informasi di otak anjing berdasarkan partikel-partikel bau yang berhasil diendus belum diketahui secara jelas. Menurut hasil penelitian, anjing dapat membedakan dua jenis bau: partikel bau di udara yang menyebar dari orang atau benda, dan partikel bau di tanah yang masih bisa dideteksi setelah beberapa lama. Karakteristik dua jenis partikel bau kelihatannya cukup berbeda. Partikel bau yang ada di udara mudah hilang, tapi mungkin begitu jelas dan tidak bercampur bau-bauan yang lain, sedangkan partikel bau di tanah relatif lebih permanen. Anjing pelacak harus diajak melakukannya secara berulang-ulang dan berhati-hati, karena bau yang melekat di tanah mudah tercemar dengan bau-bauan yang lain. Semua itu sudah ada sejak kami lahir. Kami cuma perlu pelatihan untuk membedakan bau badan komandan, pejabat dengan pedagang kami lima saja. Begitu sampai di pasar yang akan kami gusur, kami langsung dapat menyalak lalu mengejar orang berdasarkan bau mereka.
Dari pekerjaan kami selalu tenaga penggusur paling efektif, kami tentunya mendapat imbalan. Tak susah bagi atasan kami menggaji kami. Karena sebagai anjing, kami makan apa saja. Bisa dang, roti, nasi dan sebagainya. Kami pemakan segala.Tidak sama halnya dengan keluarga kucing yang terbiasa manja di rumah, mereka tergolong karnivora sejati dengan usus kecil yang lebih pendek, kami tidak bergantung pada protein daging tertentu atau makanan tinggi protein untuk memenuhi kebutuhan makan yang paling dasar. Kami bisa mencerna dengan baik berbagai macam makanan, termasuk di antaranya sayur-sayuran dan sereal yang dapat dikonsumsi anjing dalam porsi yang besar. Tumbuh-tumbuhan dimakan anjing liar untuk memenuhi kebutuhan asam amino.
Hubungan antara manusia dan anjing mempunyai sejarah yang panjang. Fosil serigala ditemukan bersama fosil famili hominidae yang berasal dari 400.000 tahun yang lalu. Penggabungan bukti genetika dan arkelogis menunjukkan anjing sudah didomestikasi sejak akhir zaman paleolitik atas yang merupakan peralihan antara zaman pleistosin dan holosin, antara 17.000 sampai 14.000 tahun yang lalu. Walaupun demikian, penelitian morfologi fosil tulang dan analisis genetika anjing zaman kuno, anjing zaman sekarang, dan serigala belum bisa memastikan asal mula domestikasi anjing. Semua anjing kemungkinan berasal hanya dari satu kelompok serigala yang mengalami domestikasi. Tapi ada kemungkinan anjing didomestikasi terpisah-pisah di lebih dari satu lokasi. Pada beberapa kesempatan, anjing hasil domestikasi mungkin juga kawin dengan kawanan serigala liar setempat. Manusia purba memanfaatkan anjing untuk mengusir hewan liar pengganggu manusia. Indera anjing yang tajam menjadikan anjing bertugas sebagai penjaga manusia dari kedatangan hewan pemangsa yang selalu mengincar.
Ah, sudahlah. Aku tidak berkepentingan dengan sejarah itu. Betapapun hebatnya kami, manusia tetap saja paling sempurna. Karena itu kami hanya bisa hidup layak bila dipelihara oleh manusia. Kami pun tidak lagi perlu berkeliaran ke sana sini untuk mencari makan seperti masa lalu kami yang liar di pemukiman.
Tanpa terasa, jam tugasku memantau keamanan di lokasi square selesai. Aku masuk kedalam mobil dan kembali ke pos utamaku. Kami mempunyai kantor dan pos jaga. Kami menjaga pos yang ada di muka rumah majikan. Di pos ukuran 2 X 2 meter itu kami cukup nyaman. Karena dilengkapi dengan televisi dan dispenser air panas untuk membuat kopi. Tugas kami termasuk menjaga rumah dari orang yang tidak berkepentingan, serta menyortir tamu yang ingin sowan ke rumah Bapak Bos. Sebagai anjing, aku pun sangat setia dengan bosku. Karena aku adalah seekor anjing. (Pangkalpinang, 2008)

KCL Pictures
fith, tulisanmu selalu enak dibaca dari dulu. aku suka dengan tulisanmu. gimana yakh caranya ….
Oleh: iwan gunawan on Juli 26, 2009
at 3:37 am
Hehehe, baguslah kalau menyadari dirimu siapa…piss ^_^.
Oleh: jarot on Desember 20, 2009
at 7:46 am