LIHAT JUGA
Ditulis dalam Uncategorized
Aku tahu betul, kami harus pergi dan tak ada gunanya mempertahankan diri. Rumah leluhur yang ratusan tahun turun-temurun menaungi kami, rasanya bukan alasan untuk jadi sentimentil. Dan kami tak perlu punya romantisme tentang masa lalu yang indah. Yang pasti, kami dan seisi rumah berikut semua rumah tetangga dalam Gang Zuxian ini harus tunduk pada keputusan pemerintah. Dalam empat hari hitungan mundur, kami harus hengkang dan menemukan tempat baru. Lalu memulai kehidupan baru.
Namaku Akian. Aku adalah orang generasi baru. Ras kami dikenal sebagai orang-orang sukses di dunia bisnis di negeri ini. Tapi kenyataannya tak selamanya demikian. Karena di pulau ini, rasanya kami tak beda dengan warga umumnya. Diantara kami ada yang kaya, punya toko besar, sombong dan super pelit serta licik. Tapi ada juga yang setiap hari ngos-ngosan mengayuh sepeda butut untuk menjajakan otak-otak… Puluhan tahun kami berbaur dengan warga dan tidak ada yang membeda-bedakan kan kami berdasarkan ukuran kelopak mata. Tapi pemerintahlah yang di masa lalu membedakan kami. Akibatnya kami menempati perkampungan sendiri yang terpisah dari golongan lainnya.
Di masa kecil sejak kelas 1 SD aku berteman dengan Budiman, Dulah, Sasongko, Akong dan Khaidir serta Pihilpus dan Yusron. Semua suku ada. Semua agama ada. Kami tidak pernah saling menghina. Paling banter cuma olok-olok sesama anak kecil semisal “yee kalian tidak disunat!”. Kami tidak tersinggung karena kami juga punya bahan untuk balas mengolok mereka. Yang pasti anak-anak selalu berteman. Jika suatu hari kami berkelahi, esoknya kami sudah berteman lagi dan melupakan perkara kemarin. Di dunia anak-anak hampir tak ada dendam.
Jika lebaran tiba, kami mengunjungi kawan-kawan yang beragama Islam. Kami dipersilakan makan sepuasnya. Walau malu-malu, aku juga sering mengantongi kue satu yang terbuat dari kacang hijau itu. Itulah kue favoritku hingga sekarang. Dan pada saat Kongnyan tiba, teman-teman Islam juga berkunjung, tapi tidak semua makanan yang kami suguhkan mereka habisi. Mereka takut kalau ada bekas minyak babi di panci tempat ibu kami memasak… Jadi teman-teman cuma berebutan membuka minuman kaleng atau permen yang menurut mereka lebih terjamin kehalalannya ketimbang kue-kue basah yang dibuat mama. Tak mengapalah. Kami sangat menghargai keyakinan mereka seperti mereka tak pernah menggangu kepercayaan kami.
***
“Akiaaan…! “ panggil mama. Wanita itu sudah setengah renta. Aku tersentak. “Ka ngape di situ!” (Kamu sedang apa di situ) katanya. Sekalipun sudah berumur 60 tahun mama tetap bersuara kencang. “Dak liat he urang sibuk-sibuk nek gi pindah…!” (Apa kamu tidak lihat orang sibuk mau pindah?) lanjutnya. Aku menyadari, seisi rumah dan sepanjang Gang Zuxian sedang berkemas-kemas karena hari semakin dekat. Mama kesal melihatku melamun di teras atas. Jadi aku harus membantu Mama dan Akim adikku membereskan barang-barang yang besok akan diangkut ke atas truk dan membawa semuanya ke sebuah desa tempat baru kami jauh di luar kota.
“Aok Mah… “ (Iya, Ma)
“Ka jangan diem-diem di situ. Ka nek mati bediri hee..!” (Kamu jangan diam saja di situ. Apa kamu mau mati berdiri?) katanya tambah kencang. Kubuang rasa kesal karena makian itu. Bagaimanapun mama adalah orangtua yang harus aku hormati dan aku perlakukan baik. Itu adalah ajaran leluhur yang paling aku hayati selama ini. Karena selebihnya aku tidak paham apa-apa tentang agama yang kami anut sejak lahir. Yang pasti, jika kami tidak memuliakan orangtua, maka kami bisa soi seumur hidup.
“Aokla ma…!” (Baiklah Ma) kataku sambil beranjak. Lalu ikut sibuk membantu Akim menyusun dus-dus berisi perabotan.
Aku bisa maklum mengapa mama begitu kesalnya terhadapku. Beliau mengharapkan kami orang-orang muda bisa berjuang mempertahankan tanah dan rumah kami dari upaya penggusuran. Tapi kami gagal. Sorot matanya memperlihatkan sikap tidak terima. Di sini memang ada seorang pemuda yang cukup keras mempertahankan prinsip. Namanya Achung. Dia berani bicara menentang upaya penggusuran. Sayangnya Achung seorang pemabuk sehingga tidak bisa diandalkan oleh warga.
Rumah kami di pusat kota ini dihuni secara turun-temurun. Tembok tua yang tebal dan kokoh itu memperlihatkan bahwa rumah kami bukan dibuat sepuluh atau dua puluh tahu lalu. Bagunan itu itu tetap kuat meskin dirambati lumut hijau. Genting-genting kecoklatan di atasnya tidak lagi diproduksi pada masa kini. Kalau ada yang pecah, hanya ditambal dengan seng.
Gang Zuxian hanyalah sebuah lorong sempit dengan lebar sekitar dua meter. Bangunan-bangunan memadati rabat beton sepanjang tujuh puluh meter lebih itu. Dari gaya bangunannya terlihat rumah-rumah berdempetan itu dibuat saat perang berkecamuk di negeri ini. Itu terlihat pada bagian pagar tembok menjulang yang bentuknya mirip Ba Da Ling dalam ukuran mini. Tapi ada perpaduan gaya Cina, Melayu dan Belanda. Tembok-tembok putih lusuh bertingkat dua sampai empat itu terlihat kusam dan sebagian berlumut kering. Mungkin usianya sudah lebih dari seratus tahun. Di mulut gang sangat kentara hiruk-pikuk pusat kota kecil yang lumayan sibuk.
Para penghuni hanya sekitar dua puluh lima keluarga. Diantaranya ada yang masih lengkap empat generasi. Kehidupan di Gang Zuxian biasa-biasa saja. Semua menjalani hari-hari dengan aktivitas masing-masing. Menjadi pedagang keliling, penjual mian di warung tenda, tukang reparasi jam, tukang kaca mata, karyawan swasta atau buruh toko-toko yang ada di sekitar. Ada juga yang menganggur dengan menghabiskan hari-hari di muka gang. Tapi anehnya mereka selalu punya uang. Dan ada kakek yang sudah kelewat uzur, dia hanya duduk seharian di teras rumah di atas kursi roda, menghayati Ye Liang Tai Piau Wo Te Sing dari Teresa Teng sambil menunggu sang Thien menjemputnya.
Namun kehidupan yang damai dan tentram di tengah kebisingan kota itu bakal segera berakhir. Karena kawasan itu sudah dibeli oleh investor besar untuk dijadikan lingkar perdagangan internasional yang lengkap dan mewah. Lingkungan itu makin tampak bagaikan singa renta di pusat kota.
Dulu papa punya bengkel sepeda di pinggir jalan di muka gang. Tapi usaha itu tidak kami teruskan sejak papa meninggal lima tahun lalu. Bengkel itu kami jual berikut peralatannya. Tidak seberapa harganya karena barang-barang itu hanya dihargai kiloan layaknya besi rongsokan. Aku dfan Akim tidak punya minat mengelola bengkel sepeda. Apalagi sekarang minimal orang naik sepeda motor. Yang pakai sepeda cuma anak-anak SD yang belum dapat izin naik motor. Kebanyakan mereka datang ke bengkel cuma untuk pinjam pompa tangan dengan gratis. Kalaupun ada orang kaya punya koleksi sepeda canggih dan mahal, pun tidak memerlukan jasa bengkel kami. Akhirnya bengkel yang sudah memberi kami hidup itu aku tutup. Kadang aku merasa bersalah juga kalau ingat almarhum papa yang setiap hari hanya mengenakan baju kaos singlet dan celana piyama bekerja keras di bengkel sepeda kebanggaannya itu. Papa ingin aku dan Akim bisa jadi pengusaha yang baik.
“Kalo papa nih jadi tukang bengkel sepeda, kalian harus punya usaha yang lebih baik dari papa,” pesan papa dulu. Tapi beliau tidak menyuruh kami berbisnis di bidang tertentu. Beliau hanya ingin kami lebih maju. Apalagi dengan dua anak, kami termasuk keluarga paling kecil. Keluarga-keluarga lain memiliki anak paling sedikit 5 orang. Kami berdua benar-benar jadi harapan orangtua.
Itulah sebabnya kadang aku merasa berdosa dan kurang berbakti pada papa. Karena saat ini aku dan Akim terpaksa berhenti sekolah setelah masing-masing kami tamat SMK. Karena kami tidak punya biaya untuk sekolah lebih tinggi. Aku sempat sedih sekali saat lulus sekolah dulu. Kawan-kawanku merencanakan sekolah ke Jakarta. Mereka masuk fakultas ekonomi atau teknik di Universitas Trisakti atau Universitas Kristen Indonesia. Orangtua mereka kaya. Bahkan ada yang siap berangkat ke Singapura untuk kuliah di tempat yang elit dan mahal. Sementara aku anak seorang tukang bengkel sepeda yang sudah ketinggalan zaman, tak mampu berbuat apa-apa.
Aku memilih bekerja di studio foto. Karena walau disuruh papa sekolah di jurusan akuntansi, diam-diam aku mempelajari editing foto digital di lab komputer sekolahku. Dan dengan bekal otodidak itu aku diterima bekerja di studio Koh Ayung. Lelaki itu memang kawan papa di masa muda mereka. Tapi sial, Kok Ayung sama sekali tidak memandang aku sebagai anak temannya. Baginya bisnis tetap bisnis. Dia memperlakukan aku murni sebagai anak buahnya. Walaupun jabatanku sebagai operator cetak foto digital, tiap pagi aku harus menyapu dan mengepel lantai studio. Bahkan pada siang hari, tak jarang aku disuruh menjemput anaknya yang masih kelas 5 SD pulang sekolah. Dalam hati aku protes, masa sih operator digital editing yang bekerja pakai komputer harus melakukan tugas pembantu rumah tangga. Tapi apa mau dikata.
“Kamu kalau kerja sini harus rajin. Lakukan semua yang aku suruh!” katanya. Pernah suatu hari aku mangkir kerja karena sedikit pusing dan demam. Keesokan harinya aku dimarahi dengan keras. Koh Ayung sama sekali tidak mau mendengar alasan sakitku.
“Kamu kalau masih bisa berdiri harus masuk kerja!” tegasnya. Dan pada akhir bulan, gajiku yang tidak seberapa itupun kena potong ! Duh sakitnya, tapi apa daya. Bukan itu saja. Bila aku membuat kesalahan saat mencetak foto, maka Koh Ayung pun menghitung kertas dan tinta yang terbuang itu dengan nilai Rupiah. Dan lagi-lagi gajiku dipotong. Makanya bila terjadi salah cetak, aku buru-buru menyembunyikannya ke dalam saku celanaku, lalu segera memusnahkannya sebelum Koh Ayung tahu.
Aku bertahan kerja dibawah tekanan Kok Ayung karena saat itu Akim masih kelas 3 SMK. Aku berjanji dalam hati, suatu saat aku harus punya studio sendiri yang jauh lebih baik dan lebih canggih daripada milik Kok Ayung.
Setelah dua tahun, akupun berhenti dari studio kok Ayung untuk mencari peluang lain. Akim yang sudah lulus sekolahnya sementara bekerja di bengkel servis elektronik. Dia memang berbakat di bidang itu. Di masa sekolah pun Akim sudah sering memenangkan lomba elektronika dengan karya-karyanya. Sayangnya kami tidak punya biaya untuk membuatnya lebih pintar di universitas. Akhirnya Akim harus memegang solder dan multimeter untuk memperbaiki DVD player bobrok. Kacamatanya semakin tebal saja.
Di saat itulah, kawasan tempat tinggal kami bermasalah. Kami berkewajiban meninggalkan Gang Zuxian untuk diserahkan kepada pemerintah. Kabarnya kawasan itu sudah direncanakan untuk menjadi lingkungan perdagangan besar. Rencana itu sudah matang. Tinggal pengosongan lokasi saja.
Kami heran. Bagaimana mungkin ini terjadi. Kami sudah mengajukan keberatan melalu perwakilan RT/RW. Kami merasa punya bukti kepemilikan. Kami bahkan sempat membuat demo kecil-kecilan dan menjadi berita di koran lokal. Tapi pemerintah tak bergeming. Ada juga yang mengaku pengacara hebat dan siap mendampingi kami. Warga bahkan sudah patungan membayar jasa sang pengacara itu. Tapi hasilnya nihil. Pengacara itupun tak jelas lagi batang hidungnya setelah mendapat jutaan rupiah uang kami. Bukti pemilikan tanah dan bangunan kami dinyatakan tidak sah karena surat-menyurat itu dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
“Tidak tahukah kalian ini zaman sudah merdeka. Belanda tidak ada lagi. Surat-surat itu tidak berlaku lagi. Kedaluwarsa!” kata seorang pejabat yang berwenang. Apa boleh buat. Kami harus menerima sedikit uang pindah. Tanah dan bangunan tidak dibayar karena semua itu tidak sah milik kami. Uang yang diberikan oleh pemerintah dikatakan sebagai bantuan untuk pindah.
“Masih untung kalian dikasih dana untuk pindah. Gimana kalau langsung kita bulldozer saja. Kalian sendiri yang akan susah!” tambah pejabat yang berwenang tadi. Jadi tak ada solusi lain selain kami semua hengkang secara baik-baik. Memang, zaman telah membuat diantara kami lebih berani. Generasi baru kami tidak seperti para orangtua kami yang sangat penakut terhadap penguasa, lalu menyelesaikan segala sesuatunya dengan uang sogok. Mereka sering jadi korban pemerasan karena ketakutan mereka sendiri, atau tidak mau susah-susah berurusan dengan birokrasi.
Mungkin aku masih mewarisi sedikit sifat picik itu. Aku tidak seberani Achung yang walaupun dikenal sebagai pemuda pengangguran tapi paling berani menentang pengosongan Gang Zuxian. Dari jendela lantai 2 aku melihat Achung tengah berjalan dengan sempoyongan. Ia bersenandung menceracau dengan siauciu yang terbungkus plastik bening di tangannya. Hingga saat semua orang akan pergi, tinggal Achung yang nekad bertahan.
“Woi! Achung!” aku memanggil dengan keras. Achung pun menoleh ke arahku.
“Ha… ha… haa.. Kamu ngapain he nongkrong aja kaya nggak ada kerjaan ha.. haa,” kata Achung lalu menyedot pipet minumannya.
“He.. Achung. Kamu juga ngapain. Kerjaan tiap hari cuma mabok. Nyusahin orangtua! Orang-orang pada mau pindah. Kamu masih ngotot tinggal di sini he? ”
“Eh anak bodoh. Pergi saja kalian semua. Aku tetap di sini! Dasar kalian semua tolol. Ini tanah kita, rumah kita. Nggak ada yang boleh mengambilnya. Kalian semua kena tipu…” balasnya.
Aku merasa tak lagi perlu melayani omongan Achung. Dia sudah mulai tidak waras akibat minuman keras yang ditegaknya setiap hari. Saat mabuk dia berorasi bagaikan singa podium di masa revolusi. Dalam hati aku setuju dengan apa yang dikatakan Achun, tapi aku tak mungkin senekad dia.
Begitulah. Kepindahan ini tak pernah ada dalam benak kami. Tapi kini kami mengalaminya… Lama sekali aku berpikir bagaimana harus melewati semua ini. Aku membolak-balik buku-buku tua milik papa. Dan aku temukan kisah-kisah yang menyemangatiku. Zaman dahulu di masa dinasti Tiongkok ternyata banyak orang yang terusir dari lahannya karena peperangan. Mereka bahkan jauh lebih menderita. Dijajah dan kelaparan. Hingga melarikan diri dengan kapal kayu menempuh samudera yang luas. Diantara mereka bahkan mati sebelum tiba di daratan. Namun salah seorang pemimpin mereka berkata ” Di mana ada langit, di situ ada keturunan kita. Kita bisa hidup di tengah gurun maupun di atas salju”. Maka menyebarlah kelompok itu ke seantero dunia. Mereka di semua negara. Dan mereka menjadi warga negara sesuai negara tempat mereka tinggal. Lalu beranak-pinak hingga zaman terus berlanjut. Hingga kini kami menghitung hari menjelang tenggat untuk kembali menyebar.
Kubaringkan tubuhku dekat tumpukan kardus yang akan kami bawa pindah. Lalu terlelap karena kelelahan. Buku lusuh warisan papa menutupi wajahku. Malam telah beranjak. Itu artinya waktu kami semakin berkurang.
***
Gerimis menyisakan harum tanah. Aroma yang tak nyaman untuk dihirup. Aku terjaga dan merasakan sesuatu yang tak biasa. Aku bertanya sendiri, apakah kami sudah berada di tempat baru. Oh… tidak.. Bau hangus! Kami masih di Gang Zuxian. Aku bangkit dan menoleh keluar. Mengapa ramai sekali… ada suara sirine meraung-raung di bawah sana.
Sejumlah paramedis menandu orang-orang tak bernyawa yang dipunguti dari pepuing reruntuhan bangunan-bangunan yang sepertinya baru saja terbakar. Polisi membentangkan pita kuning sebagai tanda larangan melintas. Orang-orang di tepi jalan pun menutup hidung. Diantarannya sambil menangis ketika kantong-kantong mayat berisi tubuh yang tak lagi jelas bentuknya, ditutup dan diangkut ke mobil ambulan.
Aku tak sedang menonton film…
Seorang gadis kecil sunyi dalam kebisuannya. Sang papa hanya memeluknya seerat mungkin agar mata sipit si kecil tak melihat pemandangan mengerikan di depan. A Mey, gadis berumur 5 tahun itu tak diperbolehkan melihat kakak lelakinya, Achung yang sudah menjadi jenazah. Tubuh matinya ditemukan setelah petugas bersusah payah membongkar puing-puing rumah. Lima blok rumah berdinding kokoh yang berumur ratusan tahun, kini musnah dalam beberapa jam. Beruntung rumah kami tidak terciprat api. Dus-dus berharga kami masih utuh.
Orang-orang bercerita, tadi sore A Mey masih di teras atas rumahnya bersama Achung. Memang tak biasanya, kakak beradik itu nongkrong berdua. Mana mungkin lelaki pemabuk macam Achung disukai adiknya yang 12 tahun lebih muda itu. Achung juga tidak suka bermain dengan adiknya. Malah dia tak peduli sama sekali pada A Mey. Tapi sore itu tidak. Mereka tampak akrab layaknya kakak dan adik yang saling menyayangi.
A Mey memeluk boneka sedang Achung mengacungkan telunjukknya seakan memegang pistol. Kadang-kadang diarahkan ke kepalanya sendiri sambil bergumam. “Derr… der…”
“He Koko kanapa nembak kepala sendiri?”
“Enggak. Koko cuma lagi mikir,”
“Mikir apaan?”
“Kalo Adik nanti sudah jauh dari Koko, adik pasti senang. Nggak lihat orang menyebalkan macam Koko ini?”
“Koh Achung nakal sih sukanya mabok,” kata A Mey dengan nada polosnya. Dia terus membelai bonekanya.
Achung menatap kemerahan di ufuk sana. Mata sipitnya semakin redup.
“He Koko memang nggak mau ikut pindah ya?
“Koko minta maaf kalo sering nakal sama A Mey ya… Kalo Koko pun pindah, mungkin tempat kita berbeda” ucapnya setengah berbisik.
“Iya, tapi koko jangan suka mabok lagi ya…”
Achung menganguk.
Malam pun beranjak.
Dingin dan meremang. Bulan putih bergantung bagaikan lampion yang mematung tanpa api di dalamnya.
Sementara itu bangunan tua dengan kabel listrik yang centang perenang di dalamnya menimbulkan percikan api. Hingga Achung dan beberapa warga Gang Zuxian lebih dulu pindah sebelum tenggat waktunya. Thien mengambilnya sebelum pemerintah menggusur mereka. Aku tak tahu apakah Achung pahlawan atau mati konyol karena halusinasinya sendiri. *** (Pangkalpinang, Juli 2009)
Thien = Sesuatu yang sangat tinggi, langit, Tuhan.
Ba Da Ling = (Baca Pa Tha Ling), great wall, tembok besar di daratan Cina
Kongnyan = Hari Raya Imlek
Koko = Kakak laki-laki
Siauciu = Arak, minuman keras hasil fermentasi yang dibuat secara tradisional.
Soi = Sial, kesialan. Lawan kata hoki (keberuntungan.)
TeresaTeng = Nama penyanyi legendaris Taiwan. Dia lahir 29 Januari 1953, wafat 8 Mei 1995. Lagu-lagunya romantis, seperti hits Ye Liang Tai Piau Wo Te Sing.
Ditulis dalam Uncategorized | Tag:Cerpen, Fiksi
AKU ADALAH SEEKOR ANJING
Oleh : Scorpiansyah
Dari salah satu pos jaga yang terselip di keramaian, aku memandang square megah yang terpampang di depan sana. Hari ini aku bertugas memantau situasi di wilayah elit itu. Hiruk pikuk manusia lengkap dengan polah dan atribut mewah di badannya. Tampaknya mereka semua berbahagia. Berbelanja dan rekreasi dengan keluarga, menikmati fasilitas lux yang beberapa bulan lalu diresmikan oleh pejabat tertinggi di kota ini.
Aku adalah seekor anjing. Walau begitu, aku dan teman-temanku sesama anjing punya peran yang tak bisa diabaikan untuk mewujudkan mimpi masyarakat kota ini memiliki mal terlengkap dan semegah itu. Layaknya pasukan, kami mendapat tugas yang menantang. Membersihkan manusia-manusia yang membandel dan tak mau pindah dari lokasi ramai itu. Kan lokasi itu mau dibikin mal yang jauh lebih gaul dibanding pasar tradisional atau kaki lima. Makanya, kami gong-gong dan kejar-kejar mereka sampai tunggang langgang. Kalau perlu digigit saja orangnya dan hancurkan bangunan serta barang-barang yang ada di dalamnya. Tak peduli apa kata orang, tak peduli apa pun berita di koran.
Semula aku memang seekor anjing dari kampung. Setelah masuk dalam pelatihan, aku tidak lagi terlihat kumal. Karena kini aku sudah mendapatkan majikan yang pintar dan tertib. Aku bergabung dengan anjing-anjing kampung lainnya. Kami dilatih oleh pelatih setara herder. Makanya kami bisa baris-berbaris dan melompati halangan bahkan mererobos api. Kami pun mendapat seragam yang licin. Kami juga dibekali senjata. Walau bukan senapan atau pistol, pentungan pun lumayanlah. Kalau melayang ke kepala orang, bisa pingsan. Minimal benjol.
“Ingat! Tugas kalian adalah patuh pada perintah komandan!” tegas atasan kami saat kami dilantik menjadi Tim Spesial Anjing Cepat Tanggap (TSACT).
Semua orang tahu, kelompok kami dianggap mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi. Ini bukan isapan jempol tapi sudah dibuktikan melalui penelitian ilmiah dan bukti-bukti lapangan. Walau dibanding anjing-anjing bule, tingkat kecerdasanku sebagai anjing kampung mungkin sedikit di bawah. Kami mungkin tidak bisa sehebat anjing ras border collie yang terkenal dapat mematuhi dan menjalankan berbagai macam perintah. Karena itu kami masuk pelatihan. Apalagi kalau dilihat asal-usul kami sebagai keturunan serigala yang hidup berkelompok membuat kami jadi lebih mudah dilatih dibandingkan hewan lain. Kami bisa patuh secara berkelompok.
Oleh karena itu, saat mengusur lokasi square yang dulunya pasar tradisional itu, kami menurut saja ketika diperintah untuk membongkat lapak-lapak serta gerobak. Pedagang kecil tunggang langgang. Ada yang mengamuk, tapi segera kami lumpuhkan. Ada yang menangis meraung-raung saat dagangannya kami obrak-abrik. Suasana tegang dan mencekam. Ada kelompok yang melawan dengan melempari kami. Kami maju terus dan mereka berhasil kami desak, lalu kabur. Yang tertangkap beberapa orang, segera kami amankan dengan borgol. Ya, kami hanya patuh perintah atasan. Sebagai anjing toh kami tak punya perasaan belas kasihan. Kami menyalak, menyepak, menggigit siapa saja atau apa saja yang sekiranya akan menghalangi pengosongan lokasi.
Aku sempat melihat ibu-ibu separoh baya memaki-maki kami. “Kalian semua anjing!”, hardiknya sambil menuding-nuding. Kami tak peduli dengan makian itu karena kami memang anjing.
“Gong gong mereka!” perintah komandan kami.
“Siap!” sahut kami
“Serang Mereka!”
“Siap!”
“Gigit mereka!”
“Siap!”
Sesungguhnya kami pun bisa mendengar suara yang tak mampun didengar oleh manusia. Sebagai anjing, kami bisa mendengar suara frekuensi rendah 16 hingga 20 Hz , manusia hanya mendengar frekuensi 20-70 Hz, dan suara frekuensi tinggi dari 70 kHz hingga 100 kHz, manusia hanya mendengar frekuensi 13-20 kHz. Selain itu, anjing bisa menggerak-gerakkan daun telinga agar cepat bisa menentukan lokasi sumber suara yang sebenarnya. Lebih dari 18 otot pada daun telinga memungkinkan kami memiringkan, memutar, menidurkan, atau menegakkan daun telinga. Anjing mampu menentukan sumber suara lebih cepat dari manusia, sekaligus bisa mendengar suara yang sumbernya empat kali lebih jauh yang dapat didengar manusia.
Karena itu kami bisa melacak di mana ada orang bersembunyi atau menyembunyikan barang-barang mereka. Saat mereka berbisik-bisik, kami mampu mendengar. Apalagi suara gesekan ketika mereka menyeret barang-barang dagangan untuk dibawa ke tempat aman. Kami segera temukan. Lalu kami obrak-abrik, atau naikkan ke dalam truk. Atau kalau perlu kami bakar saja.
Kelebihan kami sebagai anjing yang sangat terkenal adalah memiliki hampir 220 juta sel penciuman yang sensitif terhap bau. Luas sel itu kira-kira selebar sapu tangan, sangat luas bila dibandingkan sel penciuman yang dimiliki manusia. Sebagai pembanding, manusia hanya memiliki 5 juta sel penciuman yang menempati luas selebar meterai. Beberapa jenis anjing ras bahkan sengaja dibiakkan agar lahir anak anjing dengan indera penciuman yang lebih bagus. Mekanisme pengumpulan informasi di otak anjing berdasarkan partikel-partikel bau yang berhasil diendus belum diketahui secara jelas. Menurut hasil penelitian, anjing dapat membedakan dua jenis bau: partikel bau di udara yang menyebar dari orang atau benda, dan partikel bau di tanah yang masih bisa dideteksi setelah beberapa lama. Karakteristik dua jenis partikel bau kelihatannya cukup berbeda. Partikel bau yang ada di udara mudah hilang, tapi mungkin begitu jelas dan tidak bercampur bau-bauan yang lain, sedangkan partikel bau di tanah relatif lebih permanen. Anjing pelacak harus diajak melakukannya secara berulang-ulang dan berhati-hati, karena bau yang melekat di tanah mudah tercemar dengan bau-bauan yang lain. Semua itu sudah ada sejak kami lahir. Kami cuma perlu pelatihan untuk membedakan bau badan komandan, pejabat dengan pedagang kami lima saja. Begitu sampai di pasar yang akan kami gusur, kami langsung dapat menyalak lalu mengejar orang berdasarkan bau mereka.
Dari pekerjaan kami selalu tenaga penggusur paling efektif, kami tentunya mendapat imbalan. Tak susah bagi atasan kami menggaji kami. Karena sebagai anjing, kami makan apa saja. Bisa dang, roti, nasi dan sebagainya. Kami pemakan segala.Tidak sama halnya dengan keluarga kucing yang terbiasa manja di rumah, mereka tergolong karnivora sejati dengan usus kecil yang lebih pendek, kami tidak bergantung pada protein daging tertentu atau makanan tinggi protein untuk memenuhi kebutuhan makan yang paling dasar. Kami bisa mencerna dengan baik berbagai macam makanan, termasuk di antaranya sayur-sayuran dan sereal yang dapat dikonsumsi anjing dalam porsi yang besar. Tumbuh-tumbuhan dimakan anjing liar untuk memenuhi kebutuhan asam amino.
Hubungan antara manusia dan anjing mempunyai sejarah yang panjang. Fosil serigala ditemukan bersama fosil famili hominidae yang berasal dari 400.000 tahun yang lalu. Penggabungan bukti genetika dan arkelogis menunjukkan anjing sudah didomestikasi sejak akhir zaman paleolitik atas yang merupakan peralihan antara zaman pleistosin dan holosin, antara 17.000 sampai 14.000 tahun yang lalu. Walaupun demikian, penelitian morfologi fosil tulang dan analisis genetika anjing zaman kuno, anjing zaman sekarang, dan serigala belum bisa memastikan asal mula domestikasi anjing. Semua anjing kemungkinan berasal hanya dari satu kelompok serigala yang mengalami domestikasi. Tapi ada kemungkinan anjing didomestikasi terpisah-pisah di lebih dari satu lokasi. Pada beberapa kesempatan, anjing hasil domestikasi mungkin juga kawin dengan kawanan serigala liar setempat. Manusia purba memanfaatkan anjing untuk mengusir hewan liar pengganggu manusia. Indera anjing yang tajam menjadikan anjing bertugas sebagai penjaga manusia dari kedatangan hewan pemangsa yang selalu mengincar.
Ah, sudahlah. Aku tidak berkepentingan dengan sejarah itu. Betapapun hebatnya kami, manusia tetap saja paling sempurna. Karena itu kami hanya bisa hidup layak bila dipelihara oleh manusia. Kami pun tidak lagi perlu berkeliaran ke sana sini untuk mencari makan seperti masa lalu kami yang liar di pemukiman.
Tanpa terasa, jam tugasku memantau keamanan di lokasi square selesai. Aku masuk kedalam mobil dan kembali ke pos utamaku. Kami mempunyai kantor dan pos jaga. Kami menjaga pos yang ada di muka rumah majikan. Di pos ukuran 2 X 2 meter itu kami cukup nyaman. Karena dilengkapi dengan televisi dan dispenser air panas untuk membuat kopi. Tugas kami termasuk menjaga rumah dari orang yang tidak berkepentingan, serta menyortir tamu yang ingin sowan ke rumah Bapak Bos. Sebagai anjing, aku pun sangat setia dengan bosku. Karena aku adalah seekor anjing. (Pangkalpinang, 2008)
Ditulis dalam Fiksi, Uncategorized
Komentar Terakhir